Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

ALLVOICES.COM
Tikus raksasa Afrika mungkin bukanlah teman terbaik manusia. Namun, hewan ini bisa melakukan apa yang bisa dikerjakan anjing, yakni mencari bom. Profesor Fakultas Zoologi di Oklahoma State University of Zoologi, Alexander Ophir, mendapat dana dari Army Research Office untuk mengkaji tikus raksasa Afrika berkantung.
Binatang ini memiliki penglihatan yang buruk namun memiliki indera penciuman yang luar biasa. Ophir mengatakan, kemampuan pencium tikus ini suatu saat nanti bisa digunakan untuk mendeteksi bahan peledak.
“Tikus ini merupakan jenis teknologi yang diharapkan akan digunakan untuk menyelamatkan nyawa,” papar Ophir.
Bahkan, Ophir menyebutkan, menggunakan tikus untuk mendeteksi bahan peledak bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Badan amal Belgia APOPO telah menggunakan tikus raksasa berkantung Afrika yang bisa tumbuh sepanjang satu meter ini untuk mendeteksi ranjau darat.
Kelompok yang bekerja di Tanzania dan Mozambique ini juga melatih tikus itu untuk mencium bau. Tikus itu dilatih mencium bau bakteri yang menyebabkan tuberkulosis (TBC) untuk menentukan apakah seseorang bisa menderita penyakit itu.
Ophir berencana mempelajari kemampuan bawaan tikus-tikus ini dan mencari cara memaksimalkan potensi mencium bau bom itu. Studi ini bertujuan untuk mengamati tikus di lingkungan alami mereka dan kemudian mengidentifikasi jenis kepribadian atau watak yang mungkin menentukan apakah beberapa tikus lebih baik dibuang atau diarahkan sebagai detektor.
Menurut Ophir, tak semua tikus diciptakan sama. “Tak semua orang akan menjadi pilot pesawat tempur. Beberapa orang mungkin lebih baik berada di bagian artileri atau penembak jitu,” katanya.
Kata lainnya, beberapa tikus mungkin secara alami cocok untuk mencium bom. Ketika sifat itu teridentifikasi, gagasan selanjutnya yakni melihat apakah DNA dapat dikaitkan dengan sifat itu. Kemudian, menggunakan penanda genetik, memilih tikus yang cocok untuk berkarir dalam bidang deteksi bom saat lahir.
Ophir mengatakan, tikus bisa digunakan untuk mendeteksi ranjau darat. Selain itu, tikus juga bisa digunakan untuk mendeteksi bom di pinggir jalan seperti di Irak dan Afghanistan. Bahkan, tikus-tikus ini bisa digunakan agen Administrasi Keamanan Transportasi untuk menyaring kargo di bandara.
Menurut Ophir, meski tikus tak seramah anjing dan menyulitkan banyak orang saat agen keamanan bandara menyaring barang-barang dengan menggunakan hewan pengerat itu, namun cara ini menawarkan beberapa keuntungan, termasuk kemudahan untuk melatihnya.
“Anjing bisa memiliki ikatan kuat dengan pelatihnya namun tikus tidak,” katanya. Anjing biasanya bekerja dengan satu pelatih khusus sedangkan tikus bisa bekerja dengan siapa pun yang telah berlatih lama dengannya.
Satu orang bisa bekerja dengan lima atau enam tikus yang berbeda. Hal ini berpotensi menghemat biaya dibanding ketika melatih anjing. Namun, apa penciuman tikus lebih baik atau lebih buruk dari anjing?
“Tak seorang pun pernah menanyakan atau mencoba menjawab pertanyaan itu,” kata Ophir.
Kita tahu anjing memiliki penciuman yang sangat tajam, dan tikus ini memiliki penciuman yang jauh lebih tajam, lanjutnya.
Menurut Ophir, salah satu kelemahan utama tikus adalah sulit menemukan sesuatu untuk memotivasi agar hewan ini mau mencari sesuatu, seperti bahan peledak. Tentunya, makanan bisa menjadi pemancingnya namun ketika tikus kenyang, makanan tak lagi bisa memotivasi mereka untuk bekerja.
“Kita perlu mencari sesuatu untuk memotivasi tikus-tikus ini yang tak membuat mereka puas. Seperti seks,” katanya.
Bagi anjing, ‘insting mangsa’ itu dapat diwakili oleh sesuatu yang sangat sederhana seperti bola tenis. “Saya rasa motivasi tikus tak sekuat anjing,” katanya.
Sebelumnya seorang ilmuwan Israel telah menciptakan sebuah detektor, mirip scanner untuk memeriksa seluruh tubuh. Perbedaannya adalah di dalam tiga kartrid berisi masing-masing delapan tikus yang dilatih khusus.
Menurut para peneliti seperti yang ditulis dalam majalah New Scientist kemudian dikutip Telegraph.co.uk, tikus tersebut bekerja secara shift dalam empat jam sekali. Hasilnya ternyata lebih akurat daripada anjing pelacak, bahkan sinar X sekalipun.
Cara bekerjanya adalah udara dipompa ke dalam kartrid setiap empat jam sekali sehingga tikus bisa bernapas. Ketika tikus merasakan ada jejak obat, maka mereka akan berlari ke sisi ruang tempat memicu alarm.

Rabu, 11 Januari 2012


(HARIAN JOGJA/SUNARTONO)
Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Puluhan warga Temuireng II, Girisuko, Panggang sudah berkumpul di Telaga Motoendro yang ada di dusunnya.
Mereka berkumpul untuk menggelat kenduri atau selamatan di tempat itu. Para warga sengaja menggelar kenduri agar air telaga yang tiba-tiba hilang akibat ambles ke dalam tanah bisa berakhir.
Warga juga melakukan kerja bhakti dengan memasang beberapa tiang kayu di dalam telaga untuk mengurangi amblesan telaga yang terus melebar. Cara itu dilakukan warga Temuireng karena bagi mereka telaga Motoendro merupakan sumber utama keseharian mereka.
Telaga Motoendro menurut sebagian besar warga tak pernah kering. Ribuan warga dusun tersebut menggantungkan hidupnya dari air telaga itu terutama untuk mandi serta memandikan dan memberi minum ternak sapi.
Tetapi telaga yang sudah ada sejak puluhan tahun silam itu kini tampaknya akan tinggal kenangan pasca terjadi fenomena amblesan pada pekan lalu yang membuat air telaga habis dalam waktu beberapa jam.
Bagi Wakijan, 45, warga dusun setempat, Telaga Motoendro sangat memberi manfaat selama bertahun-tahun dalam mencukupi kebutuhan air bagi keluarganya.
“Kalau seperti sekarang saya hanya mengandalkan air hujan dengan jumlah terbatas, jadinya musim hujan tetapi seperti kemarau,” ujar Wakijan, 45 saat menunggu dua ekor sapi miliknya yang digembalakan di pinggir Motoendro, Selasa (10/1).
Sejak Motoendro tiba-tiba mengering, ia mulai kesulitan dalam mencukupi kebutuhan air untuk minum dan memandikan dua ekor sapinya. Bahkan sudah sepekan dua ekor sapinya tak pernah dimandikan sehingga kondisinya sangat kumal, ia pun membatasi untuk memberi minum. Pasalnya jika harus menggunakan air tadah hujan yang ditampung dalam PAH di rumahnya, dikhawatirkannya tidak bisa mencukupi kebutuhan air untuk sekeluarganya terutama masak dan minum sehari-hari.
Jika harus mencari telaga lagi dengan membawa sapinya, Wakijan harus menempuh perjalanan sepanjang tiga kilometer yang berada di desa tetangga. Saat ini ia hanya berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan guna mengatasi persoalan tersebut.
“Saya harap ada solusi, intinya mengembalikan telaga seperti semula,” imbuh pria tiga anak ini.
Warga Temuireng II lainnya, Maryanto, 50, mengaku tak pernah mengira jika telaga yang banyak memberikan kenangan baginya saat masih kecil itu bakal ‘berlaku’ aneh dengan air lenyap secara tiba-tiba. Keringnya telaga, kata Maryanto, benar-benar diibaratkan seperti kemarau yang menimpa dusunnya saat musim hujan. Karena Motoendro selalu berisi air hingga penuh saat musim penghujan, bahkan di tahun 1990-an ketinggian air hampir mencapai kawasan teratas telaga yang terbangun secara alami tersebut.
“Yang pasti sejak saya kecil selalu ada airnya, mungkin pernah kering tetapi masih terisi air meskipun sedikit terutama di pojok yang saat ini ambles itu,” ujarnya.
Jika pemerintah tidak segera mencari solusi, pria dua anak ini memprediksi sembilan bulan atau saat musim kemarau ke depan warga akan terbebani dengan membeli air bersih dengan kuantitas yang besar. “Kalau mau kemarau telaga ini yang biasanya untuk mandi, kalau seperti ini terus mungkin kami harus membeli air dalam jumlah banyak, misal kemarin lima tangki besok jadi sepuluh tanki,” pungkasnya.
Menurut Wakijan, dalam kerja bhakti tersebut ditemukan titik terang hilangnya air telaga yang menuju ke arah timur atau menuju luweng yang berjarak sekitar 100 meter dari telaga Motoendro. Sejumlah warga berusaha untuk membendungnya tetapi amblesan terus melebar ke arah timur.
Sedang saat siang hari Motoendro selalu didatangi sejumlah warga yang ingin menyaksikan. Sejumlah anak-anak nekat mendekat mulut amblesan meski sudah terpasang tulisan agar jangan mendekat